Sejarah
Sejarah dari Keterlibatan Komunitas dalam konferensi Internasional AIDS (IACs)
Hanya sedikit perserta Konferensi AIDS Internasional (IACs) yang pertama dalam pertengahan hingga akhir thaun 1980, pertemuan “hanya untuk anggota” para ilmuan dan tidak menyentuh sampai pada “komunitas” – mereka yang mengidap HIV, komunitas pendukung dan pekerja yang terlibat langsung dalam organisasi pelayanan AIDS. Tujuannya adalah untuk saling memberitahukan hasil penelitian dan penemuan medis tentang apakah sebetulnya penyakit yang relatif baru, dan IAC diorganisasikan berhubungan dengan badan biomedis yang besar, seperti Badan Kesehatan Dunia, dan Pusat Pengendalian Penyakit AS. Konferensi dilaksanakan secara tahunan sampai dengan thaun 1994 menjadi dua tahun sekali.
Pada awalnya, Komunitas banyak yang tidak menghadiri walaupun ada sebagian kecil anggota yang hadir pada IACs terutama pada konferensi yang pertama di Atlanta pada tahun 1985. Pada mulanya, komunitas hadir tapi lebih banyak tidak terlihat dan diam. Kemudian meningkat dan dan lebih berani dan punya tekanan untuk melobi dan aktivis mempunyai tempat. Pengenalan secara formal dari komunitas dalam melaksanakan perencanakan dan membuat program diikuti dengan mempersiapkan komunitas setingkat dengan pengetahuan sebagai dasar. Prinsip Geneva, kemudian berkembang pada konferensi 1998, yang menyatakan:
Keterlibatan Komunitas dalam perencanaan sebuah Konferensi AIDS Internasional, sama pentingnya dengan komunitas ilmu pengetahuan, dan itu mewakili kedua belah kelompok yang seharusnya berpartisipasi dalam langkah yang sama untuk mencapai tujuan.
Walaupun tidak ada IAC yang pernah di proklamirkan secara formal, atau mengadopsi prinsip GIPA (Keterlibatan yang lebih besar oleh penderita HIV/AIDS), hal ini telah meningkat secara terintegrasi dalam proses pengorganisasian. Sebagai contoh, apabila anggota-anggota dicari dalam program, dilacak dan komunitas yang lain, pemasukan dan kepemimpinan dari penderita HIV telah menjadi suatu pertimbangan yang penting.
Untuk daftar IACs yang lengkap, termasuk tanggal, tema dan isu-isu khusus pada setiap konferensi, klik disini.
Kejadian Kunci
IACs berikut menandai kejadian penting dalam sejarah keterlibatan komunitas baik dalam konferensi-konferensi maupun sebagai pergerakan AIDS sebagai satu keseluruhan.
Washington 1987 – Aktivis mendapat tempat dalam hal yang berkaitan dengan akses, kurangnya komitmen politik, untuk memperlambat kecepatan penelitian. Sebuah diskusi panel tentang “hidup dengab AIDS” telah dilaksanakan dimana penderita HIV berbagi pengalaman. Dr. Mark Katz menulis dalam majalah Being Alive pada bulan Oktober 2000, “Dalam sebuah arena pameran ada sebuah peta Amerika Serikat yang sangat besar di mana tertulis di atasnya ‘Masalahnya: AIDS. Pemecahannya: Usir semua Homosexual.’ Hal itu telah menjadi tombol pemicu pada semua kota-kota besar di Amerika Serikat yang mengindikasikan berapa banyak homoseksual yang tinggal di masing-masing kota”. Ia menggunakan contoh ini untuk mendemonstrasikan perilaku orang yang mengidap AIDS pada masa itu.
Stockholm 1998 - Isu sosial menuai tempat untuk kenangan yang indah dan beberapa seri untuk sesi yang berjudul “Wajah dari AIDS” dimana Pandangan dari para pengidap AIDS disatukan untuk pertama kalinya dengan program konferensi formal dalam sebuah skala yang besar.
The International AIDS Society (IAS) dibentuk untuk memutuskan dimana tempat konferensi berikutnya dan untuk melayani sebagai sebuah jaringan profesional untuk HIV/AIDS.
Montreal 1989 – Forum Komunitas Pra-konferensi telah dilaksanakan yang kemudian mendukung mobilisasi dan jaringan komunitas internasional. Konferensi Montreal menandai perubahan penting dalam sejarah IACs. Pada acara pembukaan, sebuah kelompok besar aktivis yang di pimpin oleh ACT UP dan organisasi setara Canada AIDS Action Now! Dan Reaction-SIDA menggoyangkan panggung untuk memprotes tentang adanya aksi pencegahan bagi penderita AIDS untuk masuk pada tempat tertentu atau berbicara denga orang lain dan mempengaruhi komunitas. Seorang yang “resmi” mengidap HIV membuka konferensi atas nama semua pengidap AIDS secara global. Permintaan akan keterlibatan yang lebih besar lagi bagi komunitas pengidap HIV/AIDS dalam Konferensi Internasional, dan semua keputusan dan proses yang membawa pengaruh pada kehidupan para pengidap HIV/AIDS. Aktifis AIDS tetap berkampanye setiap hari tentang beberapa isu kebijaksanaan, kadang-kadang menginterupsi dalam sebuah sesi konferensi untuk mempublikasikan menyampaikan pesan-pesan mereka.
Sampai sekarang, Konferensi hanya untuk anggota untuk kepentingan pengembangan AIDS, sebuah ajang tempat bertemunya para ilmuan untuk berbagi penelitian. Pengidap HIV terwakili secara abstrak.
Dengan berbekal perencanaan Montreal IAC, ICASO (Organisasi Internasional untuk Pelayanan AIDS) terbentuk pada tahun 1991.
San Fransisco – Konferensi ini menandai fase penting dalam mobilisasi politik dimana kedua kubuh baik komunitas ilmuan maupun anggota komuniti bergabung dalam sebuahadvokasi dan gerakan sekitar penolakan Amerika Serikat untuk menuntut visa bagi para penderita HIV. Itu “bukanlah sebuah aliansi yang gampang” dimana para ilmuan dan komuniti bersatu untuk menyetujui untuk tidak setuju terhadap isu utama tentang mengenali keuntungan yang lebih besar untuk menemukan jalan untuk bisa bekerja sama. Komunitas menemukan diri mereka duduk bersama dengan para ilmuan dalam satu sesi panel. Kemudian terjadi peningkatan tingkat dan aktivis serta advocasi suara yang lebih banyak dari para pengidap HIV/AIDS.
Florace 1991 – Dibangun dalam momentum dari konferensi sebelumnya, Florace melihat protes berkepanjangan masalah kebijakan dan imigrasi Amerika serikat. Komunitas memimpin untuk meminta IAS dan rekan organisasinya untuk mengambil sikap dengan menolak semua konferensi di Amerika Serikat hingga pencabutan larangan terhadap para pelacong. Tahun 2007, hambatan itu masih tetap ada dan tidak pernah adaIAC yang dilaksanakan di Amerika Serikat sejak tahun 1990.
Berlin 1993 – ICASO menjadi mitra kerjasama dari IAC
Vancouver 1996 - Panitia mendukung komunitas dan keterlibatan aktivis termasuk komunitas khusus yang diberi nama “community aspecs”. Forum Komunitas dua hari sebelum konferensi dilaksanakan. UNAIDS (Program gabungan PBB untuk AIDS) dan GNP+ (Jaringan Global untuk para penderita HIV/AIDS) bergabung dengan ICASO menjadi panitia.
Geneva 1998 – Perwakilan dari sebuah komunitas berperan sebagai acuan di masa yang akan datang dalam halnya perencanaan Konferensi Geneva. Community Aspecs termasuk didalamnya perbedaan dan perwakilan departemen dengan staf dan anggaran secara terpisah. ICW (Komunitas Internasional Perempuan penderita HIV/AIDS) menjadi rekanan kerjasama yang ke empat. Dunia pengetahuan dan komunitas bekerja sama mengadaptasi Prinsip Geneva.
Durban 2000 – Menorehkan pertanda penting dalam fase ini dimana untuk pertama kalinya IAC diselenggarakan di Negara berkembang. Dengan Tema “Break the Silence” menarik perhatian terutama akibat yang luar biasa bagi pengidap HIV sehubungan dengan pandangan masyarakat.
Konferensi Durban merupakan suatu titik tolak dalam dalam usaha global untuk memobilisasi tanggapan terhadap AIDS. Hal ini menjadi perhatian dunia terutama dengan terkuaknya tragedi di Afrika, sementara untuk saat yang bersamaan terdapat banyak delegasi yang berasal dari Negara-negara di Africa. Hal ini memberikan ispirasi bagi peserta yang mengidap HIV positif untuk menyatakan keberadaan dan hak mereka untuk bergabung bersama dengan para peneliti dengan pembuat keputusan dalam membuat keputusan. Suara inovatif aktifis komunitas untuk “menghargai aspek ilmu pengetahuan” dan menyatukan dan melibatkan padangan dan suara mereka yang terinfeksi maupun mkomunitas yang menerima akibat dalam semua aspek” pada konferensi (Mellros, dalam “Perencanaan untuk Akibat: sebuah panduan untuk para perencana dari Aspek Komunitas dalam Konferensi AIDS Internasional” (ICASO 2005).
Berbeda dengan biasanya terdapat perdebatan yang alot dan panjang, dalam konferensi Durban ini, justru memperlihatkan dimana konferensi-konferensi yang diselenggarakan di daerah bagian Selatan dapat bersaing atau justru lebih baik dari pada konferensi-konferensi yang diselenggarakan di daerah bagian Utara.
Kasus Durban merupakan peralihan dari pendekatan biomedis ke sesuatu yang lebih menyeluruh untuk ICACs. Sebenarnya merupakan hal yang mustahil untuk sebuah sesi konferensi yang didalamnya termasuk hanya memfokuskan pada dasar-sadar Ilmu Pengetahuan untuk keluar dari fakta bahawa di hol-hol dan koridor terdapat penuh dengan orang –orang yang secara langsung atau tidak langsung terkena penyakit ini. Dari pada memindahkan orang-orang tersebut ke ruang konferensi maka pada akhirnya IAC yang akhirnya bergabung dengan mereka., Sebagai catatan dalam tambahan jejak tradisional IAC, dasar Ilmu Pengatahuan, Ilmu Pengobatan, epidemilogi, Pencegahan dan Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Pengetahun Sosial, terdapat catatan tambahan yaitu: hak-hak, politik, komitmen dan pergerakan. Akses untuk perawatan HIV dan prinsip kesetaraan bagi semua, tiba-tiba menggema sebagai isu politik dan gerakan politik.
Barcelona 2002 – “Kerangka Kerja Barcelona” dikembangkan untuk konferensi ini sebuah awal untuk pelaksanaan program yang digabungkan dan berusaha untuk menerapkan Prinsip Geneva untuk perencanaan program. Kaum muda membentuk organisasi kaum muda. Para pelaku persiapan konferensi memperkenalkan pilihan lain untuk aplikasi abstrak dimana dirasa lebih tepat untuk penelitian kwalitas dan/atau bagi penulis yang belum terbiasa dengan konferensi. Novel “Bridging Sessions” juga diperkenalkan untuk menyemangati sesi-sesi yang diskusi yang membahas berbagai perbedaan pandangan.
Barselona juga memperlihatkan beberapa poin dari sebuah consensus yaitu Tujuan dari 3.000.000 orang dari negara-negara berkembang untuk memperoleh obat-obatan antiretroviral (ARVs)dalam jangka waktu 3 tahun; perdebatan tentang pencegahan versus pendekatan perawatan, telah berakhir; pertanyaan utama sekarang adalah tentang mengamankan sumber dan kemauan untuk mengukur skala percontohan yang manjur; dan perhatian yang besar terhadap marginalisasi dan stigma yang berlanjut untuk menemukan definisi dan bentuk dari pada penyakit ini.
Bangkok 2004 – Tidak diselenggarakan forum Pra konferensi, namun diadakannya “pertemuan komunitas” yang berfokus kepada jaringan. Memperkuat organisasi kepemudaan dengan Organisasi Pemuda Bangkok. Komunitas perencana memperkenalkan sebuah inisiatif, Pedesaan Global, untuk meningkatkan akses komunitas kepada Konferensi AIDS Internasional. Pedesaan Global menandai adanya era baru dalam konferensi, tempat beradunya komunitas yang merupakan bagian terintegrasi dengan keseluruhan prosedur koferensi, bersamaan dengan diselenggarakannya sesi konferensi dan terbuka untuk umum. Saat itu merupakan suatu tempat yang kaya akan perbedaan dan dengan kesempatan yang lebih besar untuk belajar dari satu sama lain.
Toronto 2006 – Konsep tentang Pedesaan Global dan dapat diakses dengan mudah. Tempat beradunya komunitas, terbuka baik untuk delegasi dan umum, dan secaca fisik pemandangan utama dalam konferensi. Keterkaitan terjalin antara Pedesaan Global dengan Sesi Program Konferensi. Pedesaan Global berpartisipasi dalam konferensi sebagai satu kesatuan, bertekad untuk melayani dengan komunitas sebagai fokus yang terintegrasi dengan komunitas, pengetahuan dan kepemimpinan, mencerminkan dan mendukung tema keseluruhan dari konferensi AIDS 2006, waktu dan pengantaran. DiPedesaan Global perbedaan komunitas yang terinfeksi oleh HIV dan AIDS mampu berinteraksi, belajar dari dan jaringan satu sama lain.Untuk pertama kalinya Kordinator Pemuda menjadi bagian dari komponen staf perencanaan yang terhubung dengan Organisasi Kepemudaan di Toronto.
Di Toronto, terdapat struktur yang unik yang bermaksud agar keterlibatan komunitas dalam pengelolaan konferensi, menjadi semakin kokoh dari pada sebelumnya. Tuan rumah lokal diatur secara terpisah, terdaftar sebagai organisasi non-profit yang mempunyai kepengurusan tersendiri. Hal ini menarik perhatian banyak sukarelawan dari komunitas HIV sampai dengan komite organisasi-organisasi HIV setempat, dan para pekerja yang mempunyai pengalaman dalam bidang HIV. Keterikatan yang kuat antar komunitas ini merupakan bukti di berbagai tempat termasuk dalam Pedesaan Global dan Doa Nyala Lilin, tentang keterlibatan formal dari kaum muda berusia dibawah 18 tahun dan baik jangkauan lokal maupun internasional yang terjadi sebelum konferensi.
Terlihat jelas dari tahun ke tahun keterlibatan komunitas dalam IACs meningkat secara tajam. Bagaimanapun juga tetap terasa bahwa Ilmu pengetahuan merupakan “inti” dan community hanyalah “pelengkap”. Hal ini merefleksikan secara samar dan tidak langsung bahwa sekarang orang yang mengidap HIV terlibat dalam organisasi.
Sumber
Pengawasan Pedesaan Global dan Laporan Evaluasi AIDS 2006;
“Perencanaan untuk Akibat: sebuah panduan untuk para perencana dari Aspek Komunitas dalam Konferensi AIDS Internasional” (ICASO 2005).
Konferensi AIDS Internasional HDNet’s 2004:
Dari Atlanta sampai Bangkok, nampak tilas konferensi-konferensi.
Laporan Konferensi ke XV Konferensi AIDS Internasional, Bangkok, Thailand. Juli 2004.



